Naskah kuno kitab “Bahrul Lahut”
(Samudera Ketuhanan) yang merupakan kitab filsafat tulisan tangan ulama
asal Aceh telah ditemukan di Pamekasan, Madura, Jawa Timur.
“Kalau dilihat dari kertasnya, kitab ini
diperkirakan ditulis pada sekitar abad ke-17,” kata peneliti naskah
kitab kuno di pesantren itu, Umi Masfiah, Rabu.
Kitab itu ditemukan tim peneliti dari
Balai Litbang Kantor Kementerian Agama Semarang di Pondok Pesantren
Sumber Anyar, Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan.
Kondisi kitab karya ulama asal Aceh ini sebagian sudah tidak utuh lagi dan banyak yang berlubang, karena dimakan rayap.
Ada sekitar 80 eksemplar naskah kitab
kuno yang ada di pesantren itu dan semuanya ditulis dengan tangan.
“Kalau jenis kitabnya sekitar 120 kitab, karena dalam satu naskah ada
yang lebih dari satu kitab,” kata Ketua Pengurus Perpustakaan Sejarah di
pesantren itu, Kholis.
Kitab “Bahrul Lahut” merupakan salah satu
kitab yang membahas tentang filsafat ketuhanan di antara sejumlah kitab
dalam naskah-naskah kuno yang ada di perpustakaan itu.
Selain kitab Bahrul Lahut, juga ditemukan
naskah kitab kuno karya intelektual Muslim, Ibnu Arabi, yakni kitab
“Tuhfatul Mursalah” dan “Kitabul Waqad” atau ilmu astronomi yang juga
ditulis dengan tangan.
Salah satu isi kitab astronomi yang berbahasa Arab ini menjelaskan tentang peredaran bumi, bulan, dan matahari.
Menurut koordinator tim peneliti Balai
Litbang Kemenang Semarang, Zainul Atfal, penelitian naskah kuno ini
dilakukan untuk meneliti khazanah keilmuan keagamaan di Indonesia.
“Kami memilih pesantren ini sebagai
lokasi penelitian, karena untuk sementara, naskah kuno terbanyak berada
di pesantren ini,” kata Zainul Atfal.
Sempat Diklaim Karya Ulama Malaysia
“Kitab ini pernah diklaim sebagai kitab karya ulama Malaysia, padahal sebenarnya merupakan karya ulama Aceh,” kata Koordinator Tim Peneliti Badan Litbang Kemenang Semarang, Zainul Atfal, Jumat (11/3/2011) siang. Bahrul Lahut atau Samudera Ketuhanan ini sempat diaku (diklaim) sebagai karya ulama Malaysia, karena menggunakan bahasa Melayu.
“Kitab ini pernah diklaim sebagai kitab karya ulama Malaysia, padahal sebenarnya merupakan karya ulama Aceh,” kata Koordinator Tim Peneliti Badan Litbang Kemenang Semarang, Zainul Atfal, Jumat (11/3/2011) siang. Bahrul Lahut atau Samudera Ketuhanan ini sempat diaku (diklaim) sebagai karya ulama Malaysia, karena menggunakan bahasa Melayu.
Penelitian kitab kuno di pesantren Sumber
Anyar ini merupakan program Kantor Kementerian Agama untuk
menyelematkan kitab dan naskah kuno.
Selain di Kabupaten Pamekasan, penelitian
oleh Balai Litbang Kemenag Semarang ini juga dilakukan di tiga
kabupaten lain di Madura, seperti Kabupaten Sumenep, Sampang dan
Kabupaten Bangkalan.
“Semuanya ada tujuh orang yang melakukan penelitian naskah dan kitab kuno di Madura ini,” terang Zainul.
Di Kabupaten Bangkalan, penelitian naskah
dan kitab kuno dilakukan pada Keluarga Syaichona Kholil, di Sampang di
salah satu pondok pesantren di daerah Prajan, sedang di wilayah
Kabupaten Sumenep, penelitian dilakukan dengan secara menyebar.
“Jadi di Pamekasan ini penelitinya 2
orang, Sampang 2 orang, Pamekasan 2 orang dan di Kabupaten Sumenep
sebanyak 3 orang,” kata Zainul Atfal menjelaskan.
Hanya saja, dirinya belum mengetahui
jumlah keseluruhan kitab dan naskah kuno yang diteliti tim dari empat
kabupaten yang ada di Pulau Garam Madura tersebut.
“Untuk sementara baru di Pamekasan ini karena saya langsung yang melakukan penelitian disana,” ucap Zainul.
diposkan oleh http://puisimerahhati.blogspot.com


0 komentar:
Post a Comment