google-site-verification=pB7nJ-8VPD0_MU4TKKyNnhUXXIueNs_7eRq4jEOYWZA Puisi WS.Rendra | BOW Merah Hati

Puisi WS.Rendra

Rendra (Willibrordus Surendra Broto Rendra); lahir di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935 – meninggal di Depok, Jawa Barat, 6 Agustus 2009 pada umur 73 tahun) adalah penyair ternama yang kerap dijuluki sebagai "Burung Merak". Ia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967. Ketika kelompok teaternya kocar-kacir karena tekanan politik, kemudian ia mendirikan Bengkel Teater Rendra di Depok, pada bulan Oktober 1985. Semenjak masa kuliah ia sudah aktif menulis cerpen dan esai di berbagai majalah.

Daftar isi

Masa kecil

Rendra adalah anak dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Ayahnya adalah seorang guru bahasa Indonesia dan bahasa Jawa pada sekolah Katolik, Solo, di samping sebagai dramawan tradisional; sedangkan ibunya adalah penari serimpi di keraton majapahit. Masa kecil hingga remaja Rendra dihabiskannya di kota kelahirannya. Setelah menikah, ia pindah agama menjadi Islam

Pendidikan

  • TK Marsudirini, Yayasan Kanisius.
  • SD s/d SMU Katolik, SMA Pangudi Luhur Santo Yosef, Solo - Tamat pada tahun 1955.
  • Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta - Tamat.
  • mendapat beasiswa American Academy of Dramatical Art (1964 - 1967).

Rendra sebagai sastrawan

Bakat sastra Rendra sudah mulai terlihat ketika ia duduk di bangku SMP. Saat itu ia sudah mulai menunjukkan kemampuannya dengan menulis puisi, cerita pendek, dan drama untuk berbagai kegiatan sekolahnya. Bukan hanya menulis, ternyata ia juga piawai di atas panggung. Ia mementaskan beberapa dramanya, dan terutama tampil sebagai pembaca puisi yang sangat berbakat.
Ia pertama kali mempublikasikan puisinya di media massa pada tahun 1952 melalui majalah Siasat. Setelah itu, puisi-puisinya pun lancar mengalir menghiasi berbagai majalah pada saat itu, seperti Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru. Hal itu terus berlanjut seperti terlihat dalam majalah-majalah pada dekade selanjutnya, terutama majalah tahun '60-an dan tahun '70-an.
Kaki Palsu adalah drama pertamanya, dipentaskan ketika ia di SMP, dan Orang-orang di Tikungan Jalan adalah drama pertamanya yang mendapat penghargaan dan hadiah pertama dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta. Pada saat itu ia sudah duduk di SMA. Penghargaan itu membuatnya sangat bergairah untuk berkarya. Prof. A. Teeuw, di dalam bukunya, Sastra Indonesia Modern II (1989), berpendapat bahwa dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan atau kelompok seperti Angkatan 45, Angkatan '60-an, atau Angkatan '70-an. Dari karya-karyanya terlihat bahwa ia mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri.
Karya-karya Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang, dan India.
Ia juga aktif mengikuti festival-festival di luar negeri, di antaranya The Rotterdam International Poetry Festival (1971 dan 1979), The Valmiki International Poetry Festival, New Delhi (1985), Berliner Horizonte Festival, Berlin (1985), The First New York Festival Of the Arts (1988), Spoleto Festival, Melbourne, Vagarth World Poetry Festival, Bhopal (1989), World Poetry Festival, Kuala Lumpur (1992), dan Tokyo Festival (1995).

Bengkel Teater dan Bengkel Teater Rendra

Pada tahun 1967, sepulang dari Amerika Serikat, ia mendirikan Bengkel Teater yang sangat terkenal di Indonesia dan memberi suasana baru dalam kehidupan teater di tanah air. Namun sejak 1977 ia mendapat kesulitan untuk tampil di muka publik baik untuk mempertunjukkan karya dramanya maupun membacakan puisinya. Kelompok teaternya pun tak pelak sukar bertahan. Untuk menanggulangi ekonominya Rendra hijrah ke Jakarta, lalu pindah ke Depok. Pada 1985, Rendra mendirikan Bengkel Teater Rendra yang masih berdiri sampai sekarang dan menjadi basis bagi kegiatan keseniannya.
Bengkel teater ini berdiri di atas lahan sekitar 3 hektare yang terdiri dari bangunan tempat tinggal Rendra dan keluarga, serta bangunan sanggar untuk latihan drama dan tari.
Rendra di Halam Bengkel Teater.JPG
Di lahan tersebut tumbuh berbagai jenis tanaman yang dirawat secara asri, sebagian besar berupa tanaman keras dan pohon buah yang sudah ada sejak lahan tersebut dibeli, juga ditanami baru oleh Rendra sendiri serta pemberian teman-temannya. Puluhan jenis pohon antara lain, jati, mahoni, ebony, bambu, turi, mangga, rambutan, jengkol, tanjung, singkong, dan lain-lain.

Penelitian tentang karya Rendra

Profesor Harry Aveling, seorang pakar sastra dari Australia yang besar perhatiannya terhadap kesusastraan Indonesia, telah membicarakan dan menerjemahkan beberapa bagian puisi Rendra dalam tulisannya yang berjudul “A Thematic History of Indonesian Poetry: 1920 to 1974”. Karya Rendra juga dibicarakan oleh seorang pakar sastra dari Jerman bernama Profesor Rainer Carle dalam bentuk disertasi yang berjudul Rendras Gedichtsammlungen (1957—1972): Ein Beitrag Zur Kenntnis der Zeitgenossichen Indonesischen Literatur. Verlag von Dietrich Reimer in Berlin: Hamburg 1977.

Penghargaan

  • Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta (1954)
  • Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956)
  • Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970)
  • Hadiah Akademi Jakarta (1975)
  • Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976)
  • Penghargaan Adam Malik (1989)
  • The S.E.A. Write Award (1996)
  • Penghargaan Achmad Bakri (2006).

Kontroversi pernikahan, masuk Islam dan julukan Burung Merak

Baru pada usia 24 tahun, ia menemukan cinta pertama pada diri Sunarti Suwandi. Dari wanita yang dinikahinya pada 31 Maret 1959 itu, Rendra mendapat lima anak: Theodorus Setya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Clara Sinta. Romantisme percintaan mereka memberi inspirasi Rendra sehingga lahir beberapa puisi yang kemudian diterbitkan dalam satu buku Empat Kumpulan Sajak.
Di kemudian hari pada tahun 1971 datanglah Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat ditemani oleh kakaknya R. A. Laksmi Prabuningrat, keduanya adalah putri darah biru Keraton Yogyakarta mengutarakan keinginannya untuk menjadi murid Rendra dan bergabung dengan Bengkel Teater. Tak lama kemudian Rendra melamar Sito untuk menjadi istri kedua, dan Sito menerimanya. Peristiwa itu, tak pelak lagi, mengundang berbagai komentar sinis seperti mengenai masuknya Rendra menjadi Islam hanya untuk poligami. Tapi alasan yang lebih prinsipil bagi Rendra, karena Islam bisa menjawab persoalan pokok yang terus menghantuinya selama ini: kemerdekaan individual sepenuhnya. Saya bisa langsung beribadah kepada Allah tanpa memerlukan pertolongan orang lain. Sehingga saya merasa hak individu saya dihargai, katanya sambil mengutip ayat Quran, yang menyatakan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher seseorang. Dari Sitoresmi, ia mendapatkan empat anak: Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati
Sang Burung Merak kembali mengibaskan keindahan sayapnya dengan mempersunting Ken Zuraida, istri ketiga yang memberinya dua anak: Isaias Sadewa dan Maryam Supraba. Tapi pernikahan itu harus dibayar mahal karena tak lama sesudah kelahiran Maryam, Rendra diceraikan Sitoresmi pada 1979, dan Sunarti pada tahun 1981.
Sejak tahun 1977 ketika ia sedang menyelesaikan film garapan Sjumanjaya, Yang Muda Yang Bercinta ia dicekal pemerintah Orde Baru. Semua penampilan di muka publik dilarang. Ia menerbitkan buku drama untuk remaja berjudul Seni Drama untuk Remaja dengan nama Wahyu Sulaiman. Tetapi di dalam berkarya ia menyederhanakan namanya menjadi Rendra saja sejak 1975.

Beberapa karya

Drama

  • Orang-orang di Tikungan Jalan (1954)
  • Bib Bob Rambate Rate Rata (Teater Mini Kata) - 1967
  • SEKDA (1977)
  • Selamatan Anak Cucu Sulaiman (dimainkan 6 kali)
  • Mastodon dan Burung Kondor (1972)
  • Hamlet (terjemahan dari karya William Shakespeare, dengan judul yang sama)- dimainkan dua kali
  • Macbeth (terjemahan dari karya William Shakespeare, dengan judul yang sama)
  • Oedipus Sang Raja (terjemahan dari karya Sophokles, aslinya berjudul "Oedipus Rex")
  • Lysistrata (terjemahan)
  • Odipus di Kolonus (Odipus Mangkat) (terjemahan dari karya Sophokles,
  • Antigone (terjemahan dari karya Sophokles,
  • Kasidah Barzanji (dimainkan 2 kali)
  • Lingkaran Kapur Putih
  • Panembahan Reso (1986)
  • Kisah Perjuangan Suku Naga (dimainkan 2 kali)
  • Shalawat Barzanji
  • Sobrat

Kumpulan Sajak/Puisi

  • Ballada Orang-orang Tercinta (Kumpulan sajak)
  • Blues untuk Bonnie
  • Empat Kumpulan Sajak
  • Sajak-sajak Sepatu Tua
  • Mencari Bapak
  • Perjalanan Bu Aminah
  • Nyanyian Orang Urakan
  • Pamphleten van een Dichter
  • Potret Pembangunan Dalam Puisi
  • Disebabkan Oleh Angin
  • Orang Orang Rangkasbitung
  • Rendra: Ballads and Blues Poem
  • State of Emergency
  • Do'a Untuk Anak-Cucu

Pranala luar

  • (Indonesia) W.S. Rendra di TokohIndonesia.com
  • (Indonesia) WS Rendra di Situs Pusat Bahasa
  • (Indonesia) kontroversi pernikahan, masuk Islam dan julukan Si Burung Merak
  • (Indonesia) Kumpulan Puisi W.S Rendra
  • (Indonesia) Sajak Sebatang Lisong, ITB 1977 
  •  

    SAJAK ORANG MISKIN
    Oleh: Ws Rendra

    Orang-orang miskin di jalan,
    yang tinggal di dalam selokan,
    yang kalah di dalam pergulatan,
    yang diledek oleh impian,
    janganlah mereka ditinggalkan.
    Angin membawa bau baju mereka.
    Rambut mereka melekat di bulan purnama.
    Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,
    mengandung buah jalan raya.
    Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa.
    Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya.
    Tak bisa kamu abaikan.
    Bila kamu remehkan mereka,
    di jalan kamu akan diburu bayangan.
    Tidurmu akan penuh igauan,
    dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka.
    Jangan kamu bilang negara ini kaya
    karena orang-orang berkembang di kota dan di desa.
    Jangan kamu bilang dirimu kaya
    bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
    Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.
    Dan perlu diusulkan
    agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.
    Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.
    Orang-orang miskin di jalan
    masuk ke dalam tidur malammu.
    Perempuan-perempuan bunga raya
    menyuapi putra-putramu.
    Tangan-tangan kotor dari jalanan
    meraba-raba kaca jendelamu.
    Mereka tak bisa kamu biarkan.
    Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.
    Mereka akan menjadi pertanyaan
    yang mencegat ideologimu.
    Gigi mereka yang kuning
    akan meringis di muka agamamu.
    Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap
    akan hinggap di gorden presidenan
    dan buku programma gedung kesenian.
    Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,
    bagai udara panas yang

    selalu ada,
    bagai gerimis yang selalu membayang.
    Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau
    tertuju ke dada kita,
    atau ke dada mereka sendiri.
    O, kenangkanlah :
    orang-orang miskin
    juga berasal dari kemah Ibrahim..
    Djogja, 4 Februari 1978
    Potret Pembangunan dalam Puisi
    SAJAK KENALAN LAMAMU
    Oleh :
    W.S. Rendra
    Kini kita saling berpandangan saudara.
    Ragu-ragu apa pula,
    kita memang pernah berjumpa.
    Sambil berdiri di ambang pintu kereta api,
    tergencet oleh penumpang berjubel,
    Dari Yogya ke Jakarta,
    aku melihat kamu tidur di kolong bangku,
    dengan alas kertas koran,
    sambil memeluk satu anakmu,
    sementara istrimu meneteki bayinya,
    terbaring di sebelahmu.
    Pernah pula kita satu truk,
    duduk di atas kobis-kobis berbau sampah,
    sambil meremasi tetek tengkulak sayur,
    dan lalu sama-sama kaget,
    ketika truk tiba-tiba terhenti
    kerna distop oleh polisi,
    yang menarik pungutan tidak resmi.
    Ya, saudara, kita sudah sering berjumpa,
    kerna sama-sama anak jalan raya.
    ……………………………
    Hidup macam apa ini !
    Orang-orang dipindah kesana ke mari.
    Bukan dari tujuan ke tujuan.
    Tapi dari keadaan ke keadaan yang tanpa perubahan.
    …………………….
    Kini kita bersandingan, saudara.
    Kamu kenal bau bajuku.
    Jangan kamu ragu-ragu,
    kita memang pernah bertemu.
    Waktu itu hujan rinai.
    Aku menarik sehelai plastik dari tong sampah
    tepat pada waktu kamu juga menariknya.
    Kita saling berpandangan.
    Kamu menggendong anak kecil di punggungmu.
    Aku membuka mulut,
    hendak berkata sesuatu……
    Tak sempat !
    Lebih dulu tinjumu melayang ke daguku…..
    Dalam pandangan mata berkunang-kunang,
    aku melihat kamu
    membawa helaian plastik itu
    ke satu gubuk karton.
    Kamu lapiskan ke atap gubugmu,
    dan lalu kamu masuk dengan anakmu…..
    Sebungkus nasi yang dicuri,
    itulah santapan.
    Kolong kios buku di terminal
    itulah peraduan.
    Ya, saudara-saudara, kita sama-sama kenal ini,
    karena kita anak jadah bangsa yang mulia.
    ………………….
    Hidup macam apa hidup ini.
    Di taman yang gelap orang menjual badan,
    agar mulutnya tersumpal makan.
    Di hotel yang mewah istri guru menjual badan
    agar pantatnya diganjal sedan.
    ……………..
    Duabelas pasang payudara gemerlapan,
    bertatahkan intan permata di sekitar putingnya.
    Dan di bawah semuanya,
    celana dalam sutera warna kesumba.
    Ya, saudara,
    Kita sama-sama tertawa mengenang ini semua.
    Ragu-ragu apa pula
    kita memang pernah berjumpa.
    Kita telah menyaksikan,
    betapa para pembesar
    menjilati selangkang wanita,
    sambil kepalanya diguyur anggur.
    Ya, kita sama-sama germo,
    yang menjahitkan jas di Singapura
    mencat rambut di pangkuan bintang film,
    main golf, main mahyong,
    dan makan kepiting saus tiram di restoran terhormat.
    ………..
    Hidup dalam khayalan,
    hidup dalam kenyataan……
    tak ada bedanya.
    Kerna khayalan dinyatakan,
    dan kenyataan dikhayalkan,
    di dalam peradaban fatamorgana.
    ……….
    Ayo, jangan lagi sangsi,
    kamu kenal suara batukku.
    Kamu lihat lagi gayaku meludah di trotoar.
    Ya, memang aku. Temanmu dulu.
    Kita telah sama-sama mencuri mobil ayahmu
    bergiliran meniduri gula-gulanya,
    dan mengintip ibumu main serong
    dengan ajudan ayahmu.
    Kita telah sama-sama beli morphin dari guru kita.
    Menenggak valium yang disediakan oleh dokter untuk ibumu,
    dan akhirnya menggeletak di emper tiko,
    di samping kere di Malioboro.
    Kita alami semua ini,
    kerna kita putra-putra dewa di dalam masyarakat kita.
    …..
    Hidup melayang-layang.
    Selangit,
    melayang-layang.
    Kekuasaan mendukung kita serupa ganja…..
    meninggi…. Ke awan……
    Peraturan dan hukuman,
    kitalah yang empunya.
    Kita tulis dengan keringat di ketiak,
    di atas sol sepatu kita.
    Kitalah gelandangan kaya,
    yang perlu meyakinkan diri
    dengan pembunuhan.
    ………..
    Saudara-saudara, kita sekarang berjabatan.
    Kini kita bertemu lagi.
    Ya, jangan kamu ragu-ragu,
    kita memang pernah bertemu.
    Bukankah tadi telah kamu kenal
    betapa derap langkahku ?
    Kita dulu pernah menyetop lalu lintas,
    membakari mobil-mobil,
    melambaikan poster-poster,
    dan berderap maju, berdemonstrasi.
    Kita telah sama-sama merancang strategi
    di panti pijit dan restoran.
    Dengan arloji emas,
    secara teliti kita susun jadwal waktu.
    Bergadang, berunding di larut kelam,
    sambil mendekap hostess di kelab malam.
    Kerna begitulah gaya pemuda harapan bangsa.
    Politik adalah cara merampok dunia.
    Politk adalah cara menggulingkan kekuasaan,
    untuk menikmati giliran berkuasa.
    Politik adalah tangga naiknya tingkat kehidupan.
    dari becak ke taksi, dari taksi ke sedan pribadi
    lalu ke mobil sport, lalu : helikopter !
    Politik adalah festival dan pekan olah raga.
    Politik adalah wadah kegiatan kesenian.
    Dan bila ada orang banyak bacot,
    kita cap ia sok pahlawan.
    ………………………..
    Dimanakah kunang-kunag di malam hari ?
    Dimanakah trompah kayu di muka pintu ?
    Di hari-hari yang berat,
    aku cari kacamataku,
    dan tidak ketemu.
    ………………
    Ya, inilah aku ini !
    Jangan lagi sangsi !
    Inilah bau ketiakku.
    Inilah suara batukku.
    Kamu telah menjamahku,
    jangan lagi kamu ragau.
    Kita telah sama-sama berdiri di sini,
    melihat bianglala berubah menjadi lidah-lidah api,
    gunung yang kelabu membara,
    kapal terbang pribadi di antara mega-mega meneteskan air mani
    di putar blue-film di dalamnya.
    …………………
    Kekayaan melimpah.
    Kemiskinan melimpah.
    Darah melimpah.
    Ludah menyembur dan melimpah.
    Waktu melanda dan melimpah.
    Lalu muncullah banjir suara.
    Suara-suara di kolong meja.
    Suara-suara di dalam lacu.
    Suara-suara di dalam pici.
    Dan akhirnya
    dunia terbakar oleh tatawarna,
    Warna-warna nilon dan plastik.
    Warna-warna seribu warna.
    Tidak luntur semuanya.
    Ya, kita telah sama-sama menjadi saksi
    dari suatu kejadian,
    yang kita tidak tahu apa-apa,
    namun lahir dari perbuatan kita.
    Yogyakarta, 21 Juni 1977
    Potret Pembangunan dalam Puisi
    (http://zhuldyn.wordpress.com)
    SAJAK MATAHARI
    Oleh :

    W.S. Rendra
    Matahari bangkit dari sanubariku.
    Menyentuh permukaan samodra raya.
    Matahari keluar dari mulutku,
    menjadi pelangi di cakrawala.
    Wajahmu keluar dari jidatku,
    wahai kamu, wanita miskin !
    kakimu terbenam di dalam lumpur.
    Kamu harapkan beras seperempat gantang,
    dan di tengah sawah tuan tanah menanammu !
    Satu juta lelaki gundul
    keluar dari hutan belantara,
    tubuh mereka terbalut lumpur
    dan kepala mereka berkilatan
    memantulkan cahaya matahari.
    Mata mereka menyala
    tubuh mereka menjadi bara
    dan mereka membakar dunia.
    Matahri adalah cakra jingga
    yang dilepas tangan Sang Krishna.
    Ia menjadi rahmat dan kutukanmu,
    ya, umat manusia !
    Yogya, 5 Maret 1976
    Potret Pembangunan dalam Puisi
    (http://zhuldyn.wordpress.com)
    SAJAK MATA-MATA
    Oleh :

    W.S. Rendra
    Ada suara bising di bawah tanah.
    Ada suara gaduh di atas tanah.
    Ada ucapan-ucapan kacau di antara rumah-rumah.
    Ada tangis tak menentu di tengah sawah.
    Dan, lho, ini di belakang saya
    ada tentara marah-marah.
    Apaa saja yang terjadi ? Aku tak tahu.
    Aku melihat kilatan-kilatan api berkobar.
    Aku melihat isyarat-isyarat.
    Semua tidak jelas maknanya.
    Raut wajah yang sengsara, tak bisa bicara,
    menggangu pemandanganku.
    Apa saja yang terjadi ? Aku tak tahu.
    Pendengaran dan penglihatan
    menyesakkan perasaan,
    membuat keresahan –
    Ini terjadi karena apa-apa yang terjadi
    terjadi tanpa kutahu telah terjadi.
    Aku tak tahu. Kamu tak tahu.
    Tak ada yang tahu.
    Betapa kita akan tahu,
    kalau koran-koran ditekan sensor,
    dan mimbar-mimbar yang bebas telah dikontrol.
    Koran-koran adalah penerusan mata kita.
    Kini sudah diganti mata yang resmi.
    Kita tidak lagi melihat kenyataan yang beragam.
    Kita hanya diberi gambara model keadaan
    yang sudah dijahit oleh penjahit resmi.
    Mata rakyat sudah dicabut.
    Rakyat meraba-raba di dalam kasak-kusuk.
    Mata pemerintah juga diancam bencana.
    Mata pemerintah memakai kacamata hitam.
    Terasing di belakang meja kekuasaan.
    Mata pemerintah yang sejati
    sudah diganti mata-mata.
    Barisan mata-mata mahal biayanya.
    Banyak makannya.
    Sukar diaturnya.
    Sedangkan laporannya
    mirp pandangan mata kuda kereta
    yang dibatasi tudung mata.
    Dalam pandangan yang kabur,
    semua orang marah-marah.
    Rakyat marah, pemerinta marah,
    semua marah lantara tidak punya mata.
    Semua mata sudah disabotir.
    Mata yangbebas beredar hanyalah mata-mata.
    Hospital Rancabadak, Bandung, 28 Januari 1978
    Potret Pembangunan dalam Puisi
    (http://zhuldyn.wordpress.com)
    SAJAK ORANG KEPANASAN
    Oleh :
    W.S. Rendra
    Karena kami makan akar
    dan terigu menumpuk di gudangmu
    Karena kami hidup berhimpitan
    dan ruangmu berlebihan
    maka kami bukan sekutu
    Karena kami kucel
    dan kamu gemerlapan
    Karena kami sumpek
    dan kamu mengunci pintu
    maka kami mencurigaimu
    Karena kami telantar dijalan
    dan kamu memiliki semua keteduhan
    Karena kami kebanjiran
    dan kamu berpesta di kapal pesiar
    maka kami tidak menyukaimu
    Karena kami dibungkam
    dan kamu nyerocos bicara
    Karena kami diancam
    dan kamu memaksakan kekuasaan
    maka kami bilang : TIDAK kepadamu
    Karena kami tidak boleh memilih
    dan kamu bebas berencana
    Karena kami semua bersandal
    dan kamu bebas memakai senapan
    Karena kami harus sopan
    dan kamu punya penjara
    maka TIDAK dan TIDAK kepadamu
    Karena kami arus kali
    dan kamu batu tanpa hati
    maka air akan mengikis batu
    Suara Merdeka,
    Jumat, 15 Mei 1998
    (http://zhuldyn.wordpress.com)
    SAJAK PEPERANGAN ABIMANYU
    (Untuk puteraku, Isaias Sadewa)
    Oleh :
    W.S. Rendra
    Ketika maut mencegatnya di delapan penjuru.
    Sang ksatria berdiri dengan mata bercahaya.
    Hatinya damai,
    di dalam dadanya yang bedah dan berdarah,
    karena ia telah lunas
    menjalani kewjiban dan kewajarannya.
    Setelah ia wafat
    apakah petani-petani akan tetap menderita,
    dan para wanita kampung
    tetap membanjiri rumah pelacuran di kota ?
    Itulah pertanyaan untuk kita yang hidup.
    Tetapi bukan itu yang terlintas di kepalanya
    ketika ia tegak dengan tubuh yang penuh luka-luka.
    Saat itu ia mendengar
    nyanyian angin dan air yang turun dari gunung.
    Perjuangan adalah satu pelaksanaan cita dan rasa.
    Perjuangan adalah pelunasan kesimpulan penghayatan.
    Di saat badan berlumur darah,
    jiwa duduk di atas teratai.
    Ketika ibu-ibu meratap
    dan mengurap rambut mereka dengan debu,
    roh ksatria bersetubuh dengan cakrawala
    untuk menanam benih
    agar nanti terlahir para pembela rakyat tertindas
    – dari zaman ke zaman
    Jakarta, 2 Sptember 1977
    Potret Pembangunan dalam Puisi
    (http://zhuldyn.wordpress.com)
    SAJAK PERTEMUAN MAHASISWA
    Oleh :

    W.S. Rendra
    Matahari terbit pagi ini
    mencium bau kencing orok di kaki langit,
    melihat kali coklat menjalar ke lautan,
    dan mendengar dengung lebah di dalam hutan.
    Lalu kini ia dua penggalah tingginya.
    Dan ia menjadi saksi kita berkumpul di sini
    memeriksa keadaan.
    Kita bertanya :
    Kenapa maksud baik tidak selalu berguna.
    Kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga.
    Orang berkata “ Kami ada maksud baik “
    Dan kita bertanya : “ Maksud baik untuk siapa ?”
    Ya ! Ada yang jaya, ada yang terhina
    Ada yang bersenjata, ada yang terluka.
    Ada yang duduk, ada yang diduduki.
    Ada yang berlimpah, ada yang terkuras.
    Dan kita di sini bertanya :
    “Maksud baik saudara untuk siapa ?
    Saudara berdiri di pihak yang mana ?”
    Kenapa maksud baik dilakukan
    tetapi makin banyak petani yang kehilangan tanahnya.
    Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota.
    Perkebunan yang luas
    hanya menguntungkan segolongan kecil saja.
    Alat-alat kemajuan yang diimpor
    tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya.
    Tentu kita bertanya :
    “Lantas maksud baik saudara untuk siapa ?”
    Sekarang matahari, semakin tinggi.
    Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala.
    Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :
    Kita ini dididik untuk memihak yang mana ?
    Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini
    akan menjadi alat pembebasan,
    ataukah alat penindasan ?
    Sebentar lagi matahari akan tenggelam.
    Malam akan tiba.
    Cicak-cicak berbunyi di tembok.
    Dan rembulan akan berlayar.
    Tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda.
    Akan hidup di dalam bermimpi.
    Akan tumbuh di kebon belakang.
    Dan esok hari
    matahari akan terbit kembali.
    Sementara hari baru menjelma.
    Pertanyaan-pertanyaan kita menjadi hutan.
    Atau masuk ke sungai
    menjadi ombak di samodra.
    Di bawah matahari ini kita bertanya :
    Ada yang menangis, ada yang mendera.
    Ada yang habis, ada yang mengikis.
    Dan maksud baik kita
    berdiri di pihak yang mana !
    Jakarta 1 Desember 1977
    Potret Pembangunan dalam Puisi
    Sajak ini dipersembahkan kepada para mahasiswa Universitas Indonesia di Jakarta, dan dibacakan di dalam salah satu adegan film “Yang Muda Yang Bercinta”, yang disutradarai oleh Sumandjaja.
    (http://zhuldyn.wordpress.com)
    SAJAK POTRET KELUARGA
    Oleh :

    W.S. Rendra
    Tanggal lima belas tahun rembulan.
    Wajah molek bersolek di angkasa.
    Kemarau dingin jalan berdebu.
    Ular yang lewat dipagut naga.
    Burung tekukur terpisah dari sarangnya.
    Kepada rekannya berkatalah suami itu :
    “Semuanya akan beres. Pasti beres.
    Mengeluhkan keadaan tak ada gunanya.
    Kesukaran selalu ada.
    Itulah namanya kehidupan.
    Apa yang kita punya sudah lumayan.
    Asal keluarga sudah terjaga,
    rumah dan mobil juga ada,
    apa palgi yang diruwetkan ?
    Anak-anak dengan tertib aku sekolahkan.
    Yang putri di SLA, yang putra mahasiswa.
    Di rumah ada TV, anggrek,
    air conditioning, dan juga agama.
    Inilah kesejahteraan yang harus dibina.
    Kita mesti santai.
    Hanya orang edan sengaja mencari kesukaran.
    Memprotes keadaaan, tidak membawa perubahan.
    Salah-salah malah hilang jabatan.”
    ………
    Tanggal lima belas tahun rembulan
    Angin kemarau tergantung di blimbing berkembang.
    Malam disambut suara halus dalam rumputan.
    Anjing menjenguk keranjang sampah.
    Kucing berjalan di bubungan atap.
    Dan ketonggeng menunggu di bawah batu.
    Isri itu duduk di muka kaca dan berkata :
    “Hari-hari mengalir seperti sungai arak.
    Udara penuh asap candu.
    Tak ada yang jelas di dalam kehidupan.
    Peristiwa melayang-layang bagaikan bayangan.
    Tak ada yang bisa diambil pegangan.
    Suamiku asyik dengan mobilnya
    padahal hidupnya penuh utang.
    Semakin kaya semakin banyak pula utangnya.
    Uang sekolah anak-anak selalu lambat dibayar.
    Ya, Tuhan, apa yang terjadi pada anak-anakku.
    Apakah jaminan pendidikannya ?
    Ah, Suamiku !
    Dahulu ketika remaja hidupnya sederhana,
    pikirannya jelas pula.
    Tetapi kini serba tidak kebenaran.
    Setiap barang membuatnya berengsek.
    Padahal harganya mahal semua.
    TV Selalu dibongkar.
    Gambar yang sudah jelas juga masih dibenar-benarkan.
    Akhirnya tertidur…….
    Sementara TV-nya membuat kegaduhan.
    Tak ada lagi yang bisa menghiburnya.
    Gampang marah soal mobil
    Gampang pula kambuh bludreknya
    Makanan dengan cermat dijaga
    malahan kena sakit gula.
    Akulah yang selalu kena luapan.
    Ia marah karena tak berdaya.
    Ia menyembunyikan kegagalam.
    Ia hanyut di dalam kemajuan zaman.
    Tidak gagah. Tidak berdaya melawannya !”
    …………………………………..
    Tanggal lima belas tahun rembulan.
    Tujuh unggas tidur di pohon nangka
    Sedang di tanah ular mencari mangsa.
    Berdesir-desir bunyi kali dikejauhan.
    Di tebing yang landai tidurlah buaya.
    Di antara batu-batu dua ketam bersenggama.
    Sang Putri yang di SLA, berkata :
    “Kawinilah aku. Buat aku mengandung.
    Bawalah aku pergi. Jadikanlah aku babu.
    Aku membenci duniaku ini.
    Semuanya serba salah, setiap orang gampang marah.
    Ayah gampang marah lantaran mobil dan TV
    Ibu gampang marah lantaran tak berani marah kepada ayah.
    Suasana tegang di dalam rumah
    meskipun rapi perabotannya.
    Aku yakin keluargaku mencintaiku.
    Tetapi semuanya ini untuk apa ?
    Untuk apa hidup keluargaku ini ?
    Apakah ayah hidup untuk mobil dan TV ?
    Apakah ibu hidup karena tak punya pilihan ?
    Dan aku ? Apa jadinya aku nanti ?
    Tiga belas tahun aku belajar di sekolah.
    Tetapi belum juga mampu berdiri sendiri.
    Untuk apakah kehidupan kami ini ?
    Untuk makan ? Untuk baca komik ?
    Untuk apa ?
    Akhirnya mendorong untuk tidak berbuat apa-apa !
    Kemacetan mencengkeram hidup kami.
    Kakasihku, temanilah aku merampok Bank.
    Pujaanku, suntikkan morpin ini ke urat darah di tetekku “
    ………………………………………
    Tanggal lima belas tahun rembulan.
    Atap-atap rumah nampak jelas bentuknya
    di bawah cahaya bulan.
    Sumur yang sunyi menonjol di bawah dahan.
    Akar bambu bercahaya pospor.
    Keleawar terbang menyambar-nyambar.
    Seekor kadal menangkap belalang.
    Sang Putra, yang mahasiswa, menulis surat dimejanya :
    “ Ayah dan ibu yang terhormat,
    aku pergi meninggalkan rumah ini.
    Cinta kasih cukup aku dapatkan.
    Tetapi aku menolak cara hidup ayah dan ibu.
    Ya, aku menolak untuk mendewakan harta.
    Aku menolak untuk mengejar kemewahan,
    tetapi kehilangan kesejahteraan.
    Bahkan kemewahan yang ayah punya
    tidak juga berarti kemakmuran.
    Ayah berkata : “santai, santai ! “
    tetapi sebenarnya ayah hanyut
    dibawa arus jorok keadaan
    Ayah hanya punya kelas,
    tetapi tidak punya kehormatan.
    Kenapa ayah berhak mendapatkan kemewahan yang sekarang ayah miliki ini?
    Hasil dari bekerja ? Bekerja apa ?
    Apakh produksi dan jasa seorang birokrat yang korupsi ?
    Seorang petani lebih produktip daripada ayah.
    Seorang buruh lebih punya jasa yang nyata.
    Ayah hanya bisa membuat peraturan.
    Ayah hanya bisa tunduk pada atasan.
    Ayah hanya bisa mendukung peraturan yang memisahkan rakyat dari penguasa.
    Ayah tidak produktip melainkan destruktip.
    Namun toh ayah mendapat gaji besar !
    Apakah ayah pernah memprotes ketidakadilan ?
    tidak pernah, bukan ?
    Terlalu beresiko, bukan ?
    Apakah aku harus mencontoh ayah ?
    Sikap hidup ayah adalah pendidikan buruk bagi jiwaku.
    Ayah dan ibu, selamat tinggal.
    Daya hidupku menolak untuk tidak berdaya. “
    Yogya, 10 Juli 1975.
    Potret Pembangunan dalam Puisi
    (http://zhuldyn.wordpress.com)
    SAJAK PULAU BALI
    Oleh :

    W.S. Rendra
    Sebab percaya akan keampuhan  industri
    dan yakin bisa memupuk modal nasional
    dari kesenian dan keindahan alam,
    maka Bali menjadi obyek pariwisata.
    Betapapun :
    tanpa basa-basi keyakinan seperti itu,
    Bali harus dibuka untuk pariwisata.
    Sebab :
    pesawat-pesawat terbang jet sudah dibikin,
    dan maskapai penerbangan harus berjalan.
    Harus ada orang-orang untuk diangkut.
    Harus diciptakan tempat tujuan untuk dijual.
    Dan waktu senggang manusia,
    serta masa berlibur untuk keluarga,
    harus bisa direbut oleh maskapai
    untuk diindustrikan.
    Dan Bali,
    dengan segenap kesenian,
    kebudayaan, dan alamnya,
    harus bisa diringkaskan,
    untuk dibungkus dalam kertas kado,
    dan disuguhkan pada pelancong.
    Pesawat terbang jet di tepi rimba Brazilia,
    di muka perkemahan kaum Badui,
    di sisi mana pun yang tak terduga,
    lebih mendadak dari mimpi,
    merupakan kejutan kebudayaan.
    Inilah satu kekuasaan baru.
    Begitu cepat hingga kita terkesiap.
    Begitu lihai sehingga kita terkesima.
    Dan sementara kita bengong,
    pesawat terbang jet yang muncul dari mimipi,
    membawa bentuk kekuatan modalnya :
    lapangan terbang. “hotel – bistik – dan – coca cola”,
    jalan raya, dan para pelancong.
    “Oh, look, honey – dear !
    Lihat orang-orang pribumi itu!
    Mereka memanjat pohon kelapa seperti kera.
    Fantastic ! Kita harus memotretnya !
    …………………………..
    Awas ! Jangan dijabat tangannya !
    senyum saja and say hello.
    You see, tangannya kotor
    Siapa tahu ada telor cacing di situ.
    …………………….
    My God, alangkah murninya mereka.
    Ia tidak menutupi teteknya !
    Look, John, ini benar-benar tetek.
    Lihat yang ini ! O, sempurna !
    Mereka bebas dan spontan.
    Aku ingin seperti mereka…..
    Eh, maksudku…..
    Okey ! Okey !….Ini hanya pengandaian saja.
    Aku tahu kamu melarang aku tanpa beha.
    Looknow, John, jangan cemberut !
    Berdirilah di sampingnya,
    aku potret di sini.
    Ah ! Fabolous !”
    Dan Bank Dunia
    selalu tertarik membantu negara miskin
    untuk membuat proyek raksasa.
    Artinya : yang 90 % dari bahannya harus diimpor.
    Dan kemajuan kita
    adalah kemajuan budak
    atau kemajuan penyalur dan pemakai.
    Maka di Bali
    hotel-hotel pribumi bangkrut
    digencet oleh packaged tour.
    Kebudayaan rakyat ternoda
    digencet standar dagang internasional.
    Tari-tarian bukan lagi satu mantra,
    tetapi hanya sekedar tontonan hiburan.
    Pahatan dan ukiran  bukan lagi ungkapan jiwa,
    tetapi hanya sekedar kerajinan tangan.
    Hidup dikuasai kehendak manusia,
    tanpa menyimak jalannya alam.
    Kekuasaan kemauan manusia,
    yang dilembagakan dengan kuat,
    tidak mengacuhkan naluri ginjal,
    hati, empedu, sungai, dan hutan.
    Di Bali :
    pantai, gunung, tempat tidur dan pura,
    telah dicemarkan
    Pejambon, 23 Juni 1977.
    Potret Pembangunan dalam Puisi
    (http://zhuldyn.wordpress.com)
    SAJAK S L A
    Oleh :

    W.S. Rendra
    Murid-murid mengobel klentit ibu gurunya
    Bagaimana itu mungkin ?
    Itu mungkin.
    Karena tidak ada patokan untuk apa saja.
    Semua boleh. Semua tidak boleh.
    Tergantung pada cuaca.
    Tergantung pada amarah dan girangnya sang raja.
    Tergantung pada kuku-kuku garuda dalam mengatur kata-kata.
    Ibu guru perlu sepeda motor dari Jepang.
    Ibu guru ingin hiburan dan cahaya.
    Ibu guru ingin atap rumahnya tidak bocor.
    Dan juga ingin jaminan pil penenang,
    tonikum-tonikum dan obat perangsang yang dianjurkan oleh dokter.
    Maka berkatalah ia
    Kepada orang tua murid-muridnya :
    “Kita bisa mengubah keadaan.
    Anak-anak akan lulus ujian kelasnya,
    terpandang di antara tetangga,
    boleh dibanggakan pada kakak mereka.
    Soalnya adalah kerjasama antara kita.
    Jangan sampai kerjaku terganggu,
    karna atap bocor.”
    Dan papa-papa semua senang.
    Di pegang-pegang tangan ibu guru,
    dimasukan uang ke dalam genggaman,
    serta sambil lalu,
    di dalam suasana persahabatan,
    teteknya disinggung dengan siku.
    Demikianlah murid-murid mengintip semua ini.
    Inilah ajaran tentang perundingan,
    perdamaian, dan santainya kehidupan.
    Ibu guru berkata :
    “Kemajuan akan berjalan dengan lancar.
    Kita harus menguasai mesin industri.
    Kita harus maju seperti Jerman,
    Jepang, Amerika.
    Sekarang, keluarkanlah daftar logaritma.”
    Murid-murid tertawa,
    dan mengeluarkan rokok mereka.
    “Karena mengingat kesopanan,
    jangan kalian merokok.
    Kelas adalah ruangbelajar.
    Dan sekarang : daftar logaritma !”
    Murid-murid tertawa dan berkata :
    “Kami tidak suka daftar logaritma.
    Tidak ada gunanya !”
    “kalian tidak ingin maju ?”
    “Kemajuan bukan soal logaritma.
    Kemajuan adalah soal perundingan.”
    “Jadi apa yang kaian inginkan ?”
    “Kami tidak ingin apa-apa.
    Kami sudah punya semuanya.”
    “Kalian mengacau !”
    “Kami tidak mengacau.
    Kami tidak berpolitik.
    Kami merokok dengan santai.
    Sperti ayah-ayah kami di kantor mereka :
    santai, tanpa politik
    berunding dengan Cina
    berunding dengan Jepang
    menciptakan suasana girang.
    Dan di saat ada pemilu,
    kami membantu keamanan,
    meredakan partai-partai.”
    Murid-murid tertawa.
    Mereka menguasai perundingan.
    Ahli lobbying.
    Faham akan gelagat.
    Pandai mengikuti keadaan.
    Mereka duduk di kantin,
    minum sitrun,
    menghindari ulangan sejarah.
    Mereka tertidur di bangku kelas,
    yang telah mereka bayar sama mahal
    seperti sewa kamar di hotel.
    Sekolah adalah pergaulan,
    yang ditentukan oleh mode,
    dijiwai oleh impian kemajuan menurut iklan.
    Dan bila ibu guru berkata :
    “Keluarkan daftar logaritma !”
    Murid-murid tertawa.
    Dan di dalam suasana persahabatan,
    mereka mengobel ibu guru mereka.
    Yogya, 22 Juni 1977.
    Potret Pembangunan dalam Puisi
    (http://zhuldyn.wordpress.com)
    SAJAK SEBATANG LISONG
    Oleh :

    W.S. Rendra
    Menghisap sebatang lisong
    melihat Indonesia Raya,
    mendengar 130 juta rakyat,
    dan di langit
    dua tiga cukong mengangkang,
    berak di atas kepala mereka
    Matahari terbit.
    Fajar tiba.
    Dan aku melihat delapan juta kanak-ka
    nak
    tanpa pendidikan.
    Aku bertanya,
    tetapi pertanyaan-pertanyaanku
    membentur meja kekuasaan yang macet,
    dan papantulis-papantulis para pendidik
    yang terlepas dari persoalan kehidupan.
    Delapan juta kanak-kanak
    menghadapi satu jalan panjang,
    tanpa pilihan,
    tanpa pepohonan,
    tanpa dangau persinggahan,
    tanpa ada bayangan ujungnya.
    …………………
    Menghisap udara
    yang disemprot deodorant,
    aku melihat sarjana-sarjana menganggur
    berpeluh di jalan raya;
    aku melihat wanita bunting
    antri uang pensiun.
    Dan di langit;
    para tekhnokrat berkata :
    bahwa bangsa kita adalah malas,
    bahwa bangsa mesti dibangun;
    mesti di-up-grade
    disesuaikan dengan teknologi yang diimpor
    Gunung-gunung menjulang.
    Langit pesta warna di dalam senjakala
    Dan aku melihat
    protes-protes yang terpendam,
    terhimpit di bawah tilam.
    Aku bertanya,
    tetapi pertanyaanku
    membentur jidat penyair-penyair salon,
    yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
    sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
    dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
    termangu-mangu di kaki dewi kesenian.
    Bunga-bunga bangsa tahun depan
    berkunang-kunang pandang matanya,
    di bawah iklan berlampu neon,
    Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
    menjadi gemalau suara yang kacau,
    menjadi karang di bawah muka samodra.
    ………………
    Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
    Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
    tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
    Kita mesti keluar ke jalan raya,
    keluar ke desa-desa,
    mencatat sendiri semua gejala,
    dan menghayati persoalan yang nyata.
    Inilah sajakku
    Pamplet masa darurat.
    Apakah artinya kesenian,
    bila terpisah dari derita lingkungan.
    Apakah artinya berpikir,
    bila terpisah dari masalah kehidupan.
    19 Agustus 1977
    ITB Bandung
    Potret Pembangunan dalam Puisi
    Sajak ini dipersembahkan kepada para mahasiswa Institut Teknologi Bandung, dan dibacakan di dalam salah satu adegan film “Yang Muda Yang Bercinta”, yang disutradarai oleh Sumandjaya.
    (http://zhuldyn.wordpress.com)
    SAJAK SEBOTOL BIR
    Oleh :

    W.S. Rendra
    Menenggak bir sebotol,
    menatap dunia,
    dan melihat orang-orang kelaparan.
    Membakar dupa,
    mencium bumi,
    dan mendengar derap huru-hara.
    Hiburan kota besar dalam semalam,
    sama dengan biaya pembangunan sepuluh desa !
    Peradaban apakah yang kita pertahankan ?
    Mengapa kita membangun kota metropolitan ?
    dan alpa terhadap peradaban di desa ?
    Kenapa pembangunan menjurus kepada penumpukan,
    dan tidak kepada pengedaran ?
    Kota metropolitan di sini tidak tumbuh dari industri,
    Tapi tumbuh dari kebutuhan negara industri asing
    akan pasaran dan sumber pengadaan bahan alam
    Kota metropolitan di sini,
    adalah sarana penumpukan bagi Eropa, Jepang, Cina, Amerika,
    Australia, dan negara industri lainnya.
    Dimanakah jalan lalu lintas yang dulu ?
    Yang neghubungkan desa-desa dengan desa-desa ?
    Kini telah terlantarkan.
    Menjadi selokan atau kubangan.
    Jalanlalu lintas masa kini,
    mewarisi pola rencana penjajah tempo dulu,
    adalah alat penyaluran barang-barang asing dari
    pelabuhan ke kabupaten-kabupaten dan
    bahan alam dari kabupaten-kabupaten ke pelabuhan.
    Jalan lalu lintas yang diciptakan khusus,
    tidak untuk petani,
    tetapi untuk pedagang perantara dan cukong-cukong.
    Kini hanyut di dalam arus peradaban yang tidak kita kuasai.
    Di mana kita hanya mampu berak dan makan,
    tanpa ada daya untuk menciptakan.
    Apakah kita akan berhenti saampai di sini ?
    Apakah semua negara yang ingin maju harus menjadi negara industri ?
    Apakah kita bermimpi untuk punya pabrik-pabrik
    yang tidak berhenti-hentinya menghasilkan……..
    harus senantiasa menghasilkan….
    Dan akhirnya memaksa negara lain
    untuk menjadi pasaran barang-barang kita ?
    …………………………….
    Apakah pilihan lain dari industri hanya pariwisata ?
    Apakah pemikiran ekonomi kita
    hanya menetek pada komunisme dan kapitalisme ?
    Kenapa lingkungan kita sendiri tidak dikira ?
    Apakah kita akan hanyut saja
    di dalam kekuatan penumpukan
    yang menyebarkan pencemaran dan penggerogosan
    terhadap alam di luar dan alam di dalam diri manusia ?
    ……………………………….
    Kita telah dikuasai satu mimpi
    untuk menjadi orang lain.
    Kita telah menjadi asing
    di tanah leluhur sendiri.
    Orang-orang desa blingsatan, mengejar mimpi,
    dan menghamba ke Jakarta.
    Orang-orang Jakarta blingsatan, mengejar mimpi
    dan menghamba kepada Jepang,
    Eropa, atau Amerika.
    Pejambon, 23 Juni 1977
    Potret Pembangunan dalam Puisi
    (http://zhuldyn.wordpress.com)
    SAJAK SEONGGOK JAGUNG
    Oleh :

    W.S. Rendra
    Seonggok jagung di kamar
    dan seorang pemuda
    yang kurang sekolahan.
    Memandang jagung itu,
    sang pemuda melihat ladang;
    ia melihat petani;
    ia melihat panen;
    dan suatu hari subuh,
    para wanita dengan gendongan
    pergi ke pasar ………..
    Dan ia juga melihat
    suatu pagi hari
    di dekat sumur
    gadis-gadis bercanda
    sambil menumbuk jagung
    menjadi maisena.
    Sedang di dalam dapur
    tungku-tungku menyala.
    Di dalam udara murni
    tercium kuwe jagung
    Seonggok jagung di kamar
    dan seorang pemuda.
    Ia siap menggarap jagung
    Ia melihat kemungkinan
    otak dan tangan
    siap bekerja
    Tetapi ini :
    Seonggok jagung di kamar
    dan seorang pemuda tamat SLA
    Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa.
    Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.
    Ia memandang jagung itu
    dan ia melihat dirinya terlunta-lunta .
    Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik.
    Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase.
    Ia melihat saingannya naik sepeda motor.
    Ia melihat nomor-nomor lotre.
    Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal.
    Seonggok jagung di kamar
    tidak menyangkut pada akal,
    tidak akan menolongnya.
    Seonggok jagung di kamar
    tak akan menolong seorang pemuda
    yang pandangan hidupnya berasal dari buku,
    dan tidak dari kehidupan.
    Yang tidak terlatih dalam metode,
    dan hanya penuh hafalan kesimpulan,
    yang hanya terlatih sebagai pemakai,
    tetapi kurang latihan bebas berkarya.
    Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.
    Aku bertanya :
    Apakah gunanya pendidikan
    bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
    di tengah kenyataan persoalannya ?
    Apakah gunanya pendidikan
    bila hanya mendorong seseorang
    menjadi layang-layang di ibukota
    kikuk pulang ke daerahnya ?
    Apakah gunanya seseorang
    belajat filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,
    atau apa saja,
    bila pada akhirnya,
    ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata :
    “ Di sini aku merasa asing dan sepi !”
    Tim, 12 Juli 1975
    Potret Pembangunan dalam Puisi
    (http://zhuldyn.wordpress.com)
    SAJAK SEORANG TUA DI BAWAH POHON
    Oleh :

    W.S. Rendra
    Inilah sajakku,
    seorang tua yang berdiri di bawah pohon meranggas,
    dengan kedua tangan kugendong di belakang,
    dan rokok kretek yang padam di mulutku.
    Aku memandang zaman.
    Aku melihat gambaran ekonomi
    di etalase toko yang penuh merk asing,
    dan jalan-jalan bobrok antar desa
    yang tidak memungkinkan pergaulan.
    Aku melihat penggarongan dan pembusukan.
    Aku meludah di atas tanah.
    Aku berdiri di muka kantor polisi.
    Aku melihat wajah berdarah seorang demonstran.
    Aku melihat kekerasan tanpa undang-undang.
    Dan sebatang jalan panjang,
    punuh debu,
    penuh kucing-kucing liar,
    penuh anak-anak berkudis,
    penuh serdadu-serdadu yang jelek dan menakutkan.
    Aku berjalan menempuh matahari,
    menyusuri jalan sejarah pembangunan,
    yang kotor dan penuh penipuan.
    Aku mendengar orang berkata :
    “Hak asasi manusia tidak sama dimana-mana.
    Di sini, demi iklim pembangunan yang baik,
    kemerdekaan berpolitik harus dibatasi.
    Mengatasi kemiskinan
    meminta pengorbanan sedikit hak asasi”
    Astaga, tahi kerbo apa ini !
    Apa disangka kentut bisa mengganti rasa keadilan ?
    Di negeri ini hak asasi dikurangi,
    justru untuk membela yang mapan dan kaya.
    Buruh, tani, nelayan, wartawan, dan mahasiswa,
    dibikin tak berdaya.
    O, kepalsuan yang diberhalakan,
    berapa jauh akan bisa kaulawan kenyataan kehidupan.
    Aku mendengar bising kendaraan.
    Aku mendengar pengadilan sandiwara.
    Aku mendengar warta berita.
    Ada gerilya kota merajalela di Eropa.
    Seorang cukong bekas kaki tangan fasis,
    seorang yang gigih, melawan buruh,
    telah diculik dan dibunuh,
    oleh golongan orang-orang yang marah.
    Aku menatap senjakala di pelabuhan.
    Kakiku ngilu,
    dan rokok di mulutku padam lagi.
    Aku melihat darah di langit.
    Ya ! Ya ! Kekerasan mulai mempesona orang.
    Yang kuasa serba menekan.
    Yang marah mulai mengeluarkan senjata.
    Bajingan dilawan secara bajingan.
    Ya ! Inilah kini kemungkinan yang mulai menggoda orang.
    Bila pengadilan tidak menindak bajingan resmi,
    maka bajingan jalanan yang akan diadili.
    Lalu apa kata nurani kemanusiaan ?
    Siapakah yang menciptakan keadaan darurat ini ?
    Apakah orang harus meneladan tingkah laku bajingan resmi ?
    Bila tidak, kenapa bajingan resmi tidak ditindak ?
    Apakah kata nurani kemanusiaan ?
    O, Senjakala yang menyala !
    Singkat tapi menggetarkan hati !
    Lalu sebentar lagi orang akan mencari bulan dan bintang-bintang !
    O, gambaran-gambaran yang fana !
    Kerna langit di badan yang tidak berhawa,
    dan langit di luar dilabur bias senjakala,
    maka nurani dibius tipudaya.
    Ya ! Ya ! Akulah seorang tua !
    Yang capek tapi belum menyerah pada mati.
    Kini aku berdiri di perempatan jalan.
    Aku merasa tubuhku sudah menjadi anjing.
    Tetapi jiwaku mencoba menulis sajak.
    Sebagai seorang manusia.
    Pejambon, 23 Oktober 1977
    Potret Pembangunan dalam Puisi
    (http://zhuldyn.wordpress.com)
    SAJAK SEORANG TUA TENTANG BANDUNG LAUTAN API
    Oleh :
    W.S. Rendra
    Bagaimana mungkin kita bernegara
    Bila tidak mampu mempertahankan wilayahnya
    Bagaimana mungkin kita berbangsa
    Bila tidak mampu mempertahankan kepastian hidup
    bersama ?
    Itulah sebabnya
    Kami tidak ikhlas
    menyerahkan Bandung kepada tentara Inggris
    dan akhirnya kami bumi hanguskan kota tercinta itu
    sehingga menjadi lautan api
    Kini batinku kembali mengenang
    udara panas yang bergetar dan menggelombang,
    bau asap, bau keringat
    suara ledakan dipantulkan mega yang jingga, dan kaki
    langit berwarna kesumba
    Kami berlaga
    memperjuangkan kelayakan hidup umat manusia.
    Kedaulatan hidup bersama adalah sumber keadilan merata
    yang bisa dialami dengan nyata
    Mana mungkin itu bisa terjadi
    di dalam penindasan dan penjajahan
    Manusia mana
    Akan membiarkan keturunannya hidup
    tanpa jaminan kepastian ?
    Hidup yang disyukuri adalah hidup yang diolah
    Hidup yang diperkembangkan
    dan hidup yang dipertahankan
    Itulah sebabnya kami melawan penindasan
    Kota Bandung berkobar menyala-nyala tapi kedaulatan
    bangsa tetap terjaga
    Kini aku sudah tua
    Aku terjaga dari tidurku
    di tengah malam di pegunungan
    Bau apakah yang tercium olehku ?
    Apakah ini bau asam medan laga tempo dulu
    yang dibawa oleh mimpi kepadaku ?
    Ataukah ini bau limbah pencemaran ?
    Gemuruh apakah yang aku dengar ini ?
    Apakah ini deru perjuangan masa silam
    di tanah periangan ?
    Ataukah gaduh hidup yang rusuh
    karena dikhianati dewa keadilan.
    Aku terkesiap. Sukmaku gagap. Apakah aku
    dibangunkan oleh mimpi ?
    Apakah aku tersentak
    Oleh satu isyarat kehidupan ?
    Di dalam kesunyian malam
    Aku menyeru-nyeru kamu, putera-puteriku !
    Apakah yang terjadi ?
    Darah teman-temanku
    Telah tumpah di Sukakarsa
    Di Dayeuh Kolot
    Di Kiara Condong
    Di setiap jejak medan laga. Kini
    Kami tersentak,
    Terbangun bersama.
    Putera-puteriku, apakah yang terjadi?
    Apakah kamu bisa menjawab pertanyaan kami ?
    Wahai teman-teman seperjuanganku yang dulu,
    Apakah kita masih sama-sama setia
    Membela keadilan hidup bersama
    Manusia dari setiap angkatan bangsa
    Akan mengalami saat tiba-tiba terjaga
    Tersentak dalam kesendirian malam yang sunyi
    Dan menghadapi pertanyaan jaman :
    Apakah yang terjadi ?
    Apakah yang telah kamu lakukan ?
    Apakah yang sedang kamu lakukan ?
    Dan, ya, hidup kita yang fana akan mempunyai makna
    Dari jawaban yang kita berikan.
    Sajak-sajak : Rendra, Sutardji Calzoum Bachri
    pada Hari Kebangkitan Nasional 1990
    (http://zhuldyn.wordpress.com)
    SAJAK SEORANG TUA UNTUK ISTERINYA
    Aku tulis sajak ini
    untuk menghibur hatimu
    Sementara kau kenangkan encokmu
    kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang
    Dan juga masa depan kita
    yang hampir rampung
    dan dengan lega akan kita lunaskan.
    Kita tidaklah sendiri
    dan terasing dengan nasib kita
    Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.
    Suka duka kita bukanlah istimewa
    kerna setiap orang mengalaminya.
    Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
    Hidup adalah untuk mengolah hidup
    bekerja membalik tanah
    memasuki rahasia langit dan samodra,
    serta mencipta dan mengukir dunia.
    Kita menyandang tugas,
    kerna tugas adalah tugas.
    Bukannya demi sorga atau neraka.
    Tetapi demi kehormatan seorang manusia.
    Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu
    meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu.
    Kita adalah kepribadian
    dan harga kita adalah kehormatan kita.
    Tolehlah lagi ke belakang
    ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya.
    Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna.
    Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita.
    Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit
    melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda.
    Dan kenangkanlah pula
    bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa
    menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.
    Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara.
    Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok.
    Tetapi kerna senyuman adalah suatu sikap.
    Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama,
    nasib, dan kehidupan.
    Lihatlah! Sembilan puluh tahun penuh warna
    Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma.
    Kita menjadi goyah dan bongkok
    kerna usia nampaknya lebih kuat dari kita
    tetapi bukan kerna kita telah terkalahkan.
    Aku tulis sajak ini
    untuk menghibur hatimu
    Sementara kaukenangkan encokmu
    kenangkanlah pula
    bahwa kita ditantang seratus dewa.
    WS. Rendra, Sajak-sajak sepatu tua,1972
    …BAHWA KITA DITANTANG SERATUS DEWA.
    (http://zhuldyn.wordpress.com)
    SAJAK TANGAN
    Oleh :

    W.S. Rendra
    Inilah tangan seorang mahasiswa,
    tingkat sarjana muda.
    Tanganku. Astaga.
    Tanganku menggapai,
    yang terpegang anderox hostes berumbai,
    Aku bego. Tanganku lunglai.
    Tanganku mengetuk pintu,
    tak ada jawaban.
    Aku tendang pintu,
    pintu terbuka.
    Di balik pintu ada lagi pintu.
    Dan selalu :
    ada tulisan jam bicara
    yang singkat batasnya.
    Aku masukkan tangan-tanganku ke celana
    dan aku keluar mengembara.
    Aku ditelan Indonesia Raya.
    Tangan di dalam kehidupan
    muncul di depanku.
    Tanganku aku sodorkan.
    Nampak asing di antara tangan beribu.
    Aku bimbang akan masa depanku.
    Tangan petani yang berlumpur,
    tangan nelayan yang bergaram,
    aku jabat dalam tanganku.
    Tangan mereka penuh pergulatan
    Tangan-tangan yang menghasilkan.
    Tanganku yang gamang
    tidak memecahkan persoalan.
    Tangan cukong,
    tangan pejabat,
    gemuk, luwes, dan sangat kuat.
    Tanganku yang gamang dicurigai,
    disikat.
    Tanganku mengepal.
    Ketika terbuka menjadi cakar.
    Aku meraih ke arah delapan penjuru.
    Di setiap meja kantor
    bercokol tentara atau orang tua.
    Di desa-desa
    para petani hanya buruh tuan tanah.
    Di pantai-pantai
    para nelayan tidak punya kapal.
    Perdagangan berjalan tanpa swadaya.
    Politik hanya mengabdi pada cuaca…..
    Tanganku mengepal.
    Tetapi tembok batu didepanku.
    Hidupku tanpa masa depan.
    Kini aku kantongi tanganku.
    Aku berjalan mengembara.
    Aku akan menulis kata-kata kotor
    di meja rektor
    TIM, 3 Juli 1977
    Potret Pembangunan dalam Puisi
    (http://zhuldyn.wordpress.com)
    SAJAK WIDURI UNTUK JOKI TOBING
    Oleh :

    W.S. Rendra
    Debu mengepul mengolah wajah tukang-tukang parkir.
    Kemarahan mengendon di dalam kalbu purba.
    Orang-orang miskin menentang kemelaratan.
    Wahai, Joki Tobing, kuseru kamu,
    kerna wajahmu muncul dalam mimpiku.
    Wahai, Joki Tobing, kuseru kamu
    karena terlibat aku di dalam napasmu.
    Dari bis kota ke bis kota
    kamu memburuku.
    Kita duduk bersandingan,
    menyaksikan hidup yang kumal.
    Dan perlahan tersirap darah kita,
    melihat sekuntum bunga telah mekar,
    dari puingan masa yang putus asa.
    Nusantara Film, Jakarta, 9 Mei 1977
    Potret Pembangunan dalam Puisi
    (http://zhuldyn.wordpress.com)
    TAHANAN
    Oleh :
    W.S. Rendra
    Atas ranjang batu
    tubuhnya panjang
    bukit barisan tanpa bulan
    kabur dan liat
    dengan mata sepikan terali
    Di lorong-lorong
    jantung matanya
    para pemuda bertangan merah
    serdadu-serdadu Belanda rebah
    Di mulutnya menetes
    lewat mimpi
    darah di cawan tembikar
    dijelmakan satu senyum
    barat  di perut gunung
    (Para pemuda bertangan merah
    adik lelaki neruskan dendam)
    Dini hari bernyanyi
    di luar dirinya
    Anak lonceng
    menggeliat enam kali
    di perut ibunya
    Mendadak
    dipejamkan matanya
    Sipir memutar kunci selnya
    dan berkata
    -He, pemberontak
    hari yang berikut bukan milikmu !
    Diseret di muka peleton algojo
    ia meludah
    tapi tak dikatakannya
    -Semalam kucicip sudah
    betapa lezatnya madu darah.
    Dan tak pernah didengarnya
    enam pucuk senapan
    meletus bersama
    AJAK SEBOTOL BIR
    Oleh :

    W.S. Rendra
    Menenggak bir sebotol,
    menatap dunia,
    dan melihat orang-orang kelaparan.
    Membakar dupa,
    mencium bumi,
    dan mendengar derap huru-hara.
    Hiburan kota besar dalam semalam,
    sama dengan biaya pembangunan sepuluh desa !
    Peradaban apakah yang kita pertahankan ?
    Mengapa kita membangun kota metropolitan ?
    dan alpa terhadap peradaban di desa ?
    Kenapa pembangunan menjurus kepada penumpukan,
    dan tidak kepada pengedaran ?
    Kota metropolitan di sini tidak tumbuh dari industri,
    Tapi tumbuh dari kebutuhan negara industri asing
    akan pasaran dan sumber pengadaan bahan alam
    Kota metropolitan di sini,
    adalah sarana penumpukan bagi Eropa, Jepang, Cina, Amerika,
    Australia, dan negara industri lainnya.
    Dimanakah jalan lalu lintas yang dulu ?
    Yang neghubungkan desa-desa dengan desa-desa ?
    Kini telah terlantarkan.
    Menjadi selokan atau kubangan.
    Jalanlalu lintas masa kini,
    mewarisi pola rencana penjajah tempo dulu,
    adalah alat penyaluran barang-barang asing dari
    pelabuhan ke kabupaten-kabupaten dan
    bahan alam dari kabupaten-kabupaten ke pelabuhan.
    Jalan lalu lintas yang diciptakan khusus,
    tidak untuk petani,
    tetapi untuk pedagang perantara dan cukong-cukong.
    Kini hanyut di dalam arus peradaban yang tidak kita kuasai.
    Di mana kita hanya mampu berak dan makan,
    tanpa ada daya untuk menciptakan.
    Apakah kita akan berhenti saampai di sini ?
    Apakah semua negara yang ingin maju harus menjadi negara industri ?
    Apakah kita bermimpi untuk punya pabrik-pabrik
    yang tidak berhenti-hentinya menghasilkan……..
    harus senantiasa menghasilkan….
    Dan akhirnya memaksa negara lain
    untuk menjadi pasaran barang-barang kita ?
    …………………………….
    Apakah pilihan lain dari industri hanya pariwisata ?
    Apakah pemikiran ekonomi kita
    hanya menetek pada komunisme dan kapitalisme ?
    Kenapa lingkungan kita sendiri tidak dikira ?
    Apakah kita akan hanyut saja
    di dalam kekuatan penumpukan
    yang menyebarkan pencemaran dan penggerogosan
    terhadap alam di luar dan alam di dalam diri manusia ?
    ……………………………….
    Kita telah dikuasai satu mimpi
    untuk menjadi orang lain.
    Kita telah menjadi asing
    di tanah leluhur sendiri.
    Orang-orang desa blingsatan, mengejar mimpi,
    dan menghamba ke Jakarta.
    Orang-orang Jakarta blingsatan, mengejar mimpi
    dan menghamba kepada Jepang,
    Eropa, atau Amerika.
    Pejambon, 23 Juni 1977
    Potret Pembangunan dalam Puisi
    (http://zhuldyn.wordpress.com)
    SAJAK SEONGGOK JAGUNG
    Oleh :

    W.S. Rendra
    Seonggok jagung di kamar
    dan seorang pemuda
    yang kurang sekolahan.
    Memandang jagung itu,
    sang pemuda melihat ladang;
    ia melihat petani;
    ia melihat panen;
    dan suatu hari subuh,
    para wanita dengan gendongan
    pergi ke pasar ………..
    Dan ia juga melihat
    suatu pagi hari
    di dekat sumur
    gadis-gadis bercanda
    sambil menumbuk jagung
    menjadi maisena.
    Sedang di dalam dapur
    tungku-tungku menyala.
    Di dalam udara murni
    tercium kuwe jagung
    Seonggok jagung di kamar
    dan seorang pemuda.
    Ia siap menggarap jagung
    Ia melihat kemungkinan
    otak dan tangan
    siap bekerja
    Tetapi ini :
    Seonggok jagung di kamar
    dan seorang pemuda tamat SLA
    Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa.
    Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.
    Ia memandang jagung itu
    dan ia melihat dirinya terlunta-lunta .
    Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik.
    Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase.
    Ia melihat saingannya naik sepeda motor.
    Ia melihat nomor-nomor lotre.
    Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal.
    Seonggok jagung di kamar
    tidak menyangkut pada akal,
    tidak akan menolongnya.
    Seonggok jagung di kamar
    tak akan menolong seorang pemuda
    yang pandangan hidupnya berasal dari buku,
    dan tidak dari kehidupan.
    Yang tidak terlatih dalam metode,
    dan hanya penuh hafalan kesimpulan,
    yang hanya terlatih sebagai pemakai,
    tetapi kurang latihan bebas berkarya.
    Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.
    Aku bertanya :
    Apakah gunanya pendidikan
    bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
    di tengah kenyataan persoalannya ?
    Apakah gunanya pendidikan
    bila hanya mendorong seseorang
    menjadi layang-layang di ibukota
    kikuk pulang ke daerahnya ?
    Apakah gunanya seseorang
    belajat filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,
    atau apa saja,
    bila pada akhirnya,
    ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata :
    “ Di sini aku merasa asing dan sepi !”
    Tim, 12 Juli 1975
    Potret Pembangunan dalam Puisi
    (http://zhuldyn.wordpress.com)
    SAJAK SEORANG TUA DI BAWAH POHON
    Oleh :

    W.S. Rendra
    Inilah sajakku,
    seorang tua yang berdiri di bawah pohon meranggas,
    dengan kedua tangan kugendong di belakang,
    dan rokok kretek yang padam di mulutku.
    Aku memandang zaman.
    Aku melihat gambaran ekonomi
    di etalase toko yang penuh merk asing,
    dan jalan-jalan bobrok antar desa
    yang tidak memungkinkan pergaulan.
    Aku melihat penggarongan dan pembusukan.
    Aku meludah di atas tanah.
    Aku berdiri di muka kantor polisi.
    Aku melihat wajah berdarah seorang demonstran.
    Aku melihat kekerasan tanpa undang-undang.
    Dan sebatang jalan panjang,
    punuh debu,
    penuh kucing-kucing liar,
    penuh anak-anak berkudis,
    penuh serdadu-serdadu yang jelek dan menakutkan.
    Aku berjalan menempuh matahari,
    menyusuri jalan sejarah pembangunan,
    yang kotor dan penuh penipuan.
    Aku mendengar orang berkata :
    “Hak asasi manusia tidak sama dimana-mana.
    Di sini, demi iklim pembangunan yang baik,
    kemerdekaan berpolitik harus dibatasi.
    Mengatasi kemiskinan
    meminta pengorbanan sedikit hak asasi”
    Astaga, tahi kerbo apa ini !
    Apa disangka kentut bisa mengganti rasa keadilan ?
    Di negeri ini hak asasi dikurangi,
    justru untuk membela yang mapan dan kaya.
    Buruh, tani, nelayan, wartawan, dan mahasiswa,
    dibikin tak berdaya.
    O, kepalsuan yang diberhalakan,
    berapa jauh akan bisa kaulawan kenyataan kehidupan.
    Aku mendengar bising kendaraan.
    Aku mendengar pengadilan sandiwara.
    Aku mendengar warta berita.
    Ada gerilya kota merajalela di Eropa.
    Seorang cukong bekas kaki tangan fasis,
    seorang yang gigih, melawan buruh,
    telah diculik dan dibunuh,
    oleh golongan orang-orang yang marah.
    Aku menatap senjakala di pelabuhan.
    Kakiku ngilu,
    dan rokok di mulutku padam lagi.
    Aku melihat darah di langit.
    Ya ! Ya ! Kekerasan mulai mempesona orang.
    Yang kuasa serba menekan.
    Yang marah mulai mengeluarkan senjata.
    Bajingan dilawan secara bajingan.
    Ya ! Inilah kini kemungkinan yang mulai menggoda orang.
    Bila pengadilan tidak menindak bajingan resmi,
    maka bajingan jalanan yang akan diadili.
    Lalu apa kata nurani kemanusiaan ?
    Siapakah yang menciptakan keadaan darurat ini ?
    Apakah orang harus meneladan tingkah laku bajingan resmi ?
    Bila tidak, kenapa bajingan resmi tidak ditindak ?
    Apakah kata nurani kemanusiaan ?
    O, Senjakala yang menyala !
    Singkat tapi menggetarkan hati !
    Lalu sebentar lagi orang akan mencari bulan dan bintang-bintang !
    O, gambaran-gambaran yang fana !
    Kerna langit di badan yang tidak berhawa,
    dan langit di luar dilabur bias senjakala,
    maka nurani dibius tipudaya.
    Ya ! Ya ! Akulah seorang tua !
    Yang capek tapi belum menyerah pada mati.
    Kini aku berdiri di perempatan jalan.
    Aku merasa tubuhku sudah menjadi anjing.
    Tetapi jiwaku mencoba menulis sajak.
    Sebagai seorang manusia.
    Pejambon, 23 Oktober 1977
    Potret Pembangunan dalam Puisi
    (http://zhuldyn.wordpress.com)
    SAJAK SEORANG TUA TENTANG BANDUNG LAUTAN API
    Oleh :
    W.S. Rendra
    Bagaimana mungkin kita bernegara
    Bila tidak mampu mempertahankan wilayahnya
    Bagaimana mungkin kita berbangsa
    Bila tidak mampu mempertahankan kepastian hidup
    bersama ?
    Itulah sebabnya
    Kami tidak ikhlas
    menyerahkan Bandung kepada tentara Inggris
    dan akhirnya kami bumi hanguskan kota tercinta itu
    sehingga menjadi lautan api
    Kini batinku kembali mengenang
    udara panas yang bergetar dan menggelombang,
    bau asap, bau keringat
    suara ledakan dipantulkan mega yang jingga, dan kaki
    langit berwarna kesumba
    Kami berlaga
    memperjuangkan kelayakan hidup umat manusia.
    Kedaulatan hidup bersama adalah sumber keadilan merata
    yang bisa dialami dengan nyata
    Mana mungkin itu bisa terjadi
    di dalam penindasan dan penjajahan
    Manusia mana
    Akan membiarkan keturunannya hidup
    tanpa jaminan kepastian ?
    Hidup yang disyukuri adalah hidup yang diolah
    Hidup yang diperkembangkan
    dan hidup yang dipertahankan
    Itulah sebabnya kami melawan penindasan
    Kota Bandung berkobar menyala-nyala tapi kedaulatan
    bangsa tetap terjaga
    Kini aku sudah tua
    Aku terjaga dari tidurku
    di tengah malam di pegunungan
    Bau apakah yang tercium olehku ?
    Apakah ini bau asam medan laga tempo dulu
    yang dibawa oleh mimpi kepadaku ?
    Ataukah ini bau limbah pencemaran ?
    Gemuruh apakah yang aku dengar ini ?
    Apakah ini deru perjuangan masa silam
    di tanah periangan ?
    Ataukah gaduh hidup yang rusuh
    karena dikhianati dewa keadilan.
    Aku terkesiap. Sukmaku gagap. Apakah aku
    dibangunkan oleh mimpi ?
    Apakah aku tersentak
    Oleh satu isyarat kehidupan ?
    Di dalam kesunyian malam
    Aku menyeru-nyeru kamu, putera-puteriku !
    Apakah yang terjadi ?
    Darah teman-temanku
    Telah tumpah di Sukakarsa
    Di Dayeuh Kolot
    Di Kiara Condong
    Di setiap jejak medan laga. Kini
    Kami tersentak,
    Terbangun bersama.
    Putera-puteriku, apakah yang terjadi?
    Apakah kamu bisa menjawab pertanyaan kami ?
    Wahai teman-teman seperjuanganku yang dulu,
    Apakah kita masih sama-sama setia
    Membela keadilan hidup bersama
    Manusia dari setiap angkatan bangsa
    Akan mengalami saat tiba-tiba terjaga
    Tersentak dalam kesendirian malam yang sunyi
    Dan menghadapi pertanyaan jaman :
    Apakah yang terjadi ?
    Apakah yang telah kamu lakukan ?
    Apakah yang sedang kamu lakukan ?
    Dan, ya, hidup kita yang fana akan mempunyai makna
    Dari jawaban yang kita berikan.
    Sajak-sajak : Rendra, Sutardji Calzoum Bachri
    pada Hari Kebangkitan Nasional 1990
    (http://zhuldyn.wordpress.com)
    SAJAK SEORANG TUA UNTUK ISTERINYA
    Aku tulis sajak ini
    untuk menghibur hatimu
    Sementara kau kenangkan encokmu
    kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang
    Dan juga masa depan kita
    yang hampir rampung
    dan dengan lega akan kita lunaskan.
    Kita tidaklah sendiri
    dan terasing dengan nasib kita
    Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.
    Suka duka kita bukanlah istimewa
    kerna setiap orang mengalaminya.
    Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
    Hidup adalah untuk mengolah hidup
    bekerja membalik tanah
    memasuki rahasia langit dan samodra,
    serta mencipta dan mengukir dunia.
    Kita menyandang tugas,
    kerna tugas adalah tugas.
    Bukannya demi sorga atau neraka.
    Tetapi demi kehormatan seorang manusia.
    Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu
    meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu.
    Kita adalah kepribadian
    dan harga kita adalah kehormatan kita.
    Tolehlah lagi ke belakang
    ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya.
    Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna.
    Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita.
    Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit
    melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda.
    Dan kenangkanlah pula
    bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa
    menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.
    Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara.
    Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok.
    Tetapi kerna senyuman adalah suatu sikap.
    Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama,
    nasib, dan kehidupan.
    Lihatlah! Sembilan puluh tahun penuh warna
    Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma.
    Kita menjadi goyah dan bongkok
    kerna usia nampaknya lebih kuat dari kita
    tetapi bukan kerna kita telah terkalahkan.
    Aku tulis sajak ini
    untuk menghibur hatimu
    Sementara kaukenangkan encokmu
    kenangkanlah pula
    bahwa kita ditantang seratus dewa.
    WS. Rendra, Sajak-sajak sepatu tua,1972
    …BAHWA KITA DITANTANG SERATUS DEWA.
    (http://zhuldyn.wordpress.com)
    SAJAK TANGAN
    Oleh :

    W.S. Rendra
    Inilah tangan seorang mahasiswa,
    tingkat sarjana muda.
    Tanganku. Astaga.
    Tanganku menggapai,
    yang terpegang anderox hostes berumbai,
    Aku bego. Tanganku lunglai.
    Tanganku mengetuk pintu,
    tak ada jawaban.
    Aku tendang pintu,
    pintu terbuka.
    Di balik pintu ada lagi pintu.
    Dan selalu :
    ada tulisan jam bicara
    yang singkat batasnya.
    Aku masukkan tangan-tanganku ke celana
    dan aku keluar mengembara.
    Aku ditelan Indonesia Raya.
    Tangan di dalam kehidupan
    muncul di depanku.
    Tanganku aku sodorkan.
    Nampak asing di antara tangan beribu.
    Aku bimbang akan masa depanku.
    Tangan petani yang berlumpur,
    tangan nelayan yang bergaram,
    aku jabat dalam tanganku.
    Tangan mereka penuh pergulatan
    Tangan-tangan yang menghasilkan.
    Tanganku yang gamang
    tidak memecahkan persoalan.
    Tangan cukong,
    tangan pejabat,
    gemuk, luwes, dan sangat kuat.
    Tanganku yang gamang dicurigai,
    disikat.
    Tanganku mengepal.
    Ketika terbuka menjadi cakar.
    Aku meraih ke arah delapan penjuru.
    Di setiap meja kantor
    bercokol tentara atau orang tua.
    Di desa-desa
    para petani hanya buruh tuan tanah.
    Di pantai-pantai
    para nelayan tidak punya kapal.
    Perdagangan berjalan tanpa swadaya.
    Politik hanya mengabdi pada cuaca…..
    Tanganku mengepal.
    Tetapi tembok batu didepanku.
    Hidupku tanpa masa depan.
    Kini aku kantongi tanganku.
    Aku berjalan mengembara.
    Aku akan menulis kata-kata kotor
    di meja rektor
    TIM, 3 Juli 1977
    Potret Pembangunan dalam Puisi
    (http://zhuldyn.wordpress.com)
    SAJAK WIDURI UNTUK JOKI TOBING
    Oleh :

    W.S. Rendra
    Debu mengepul mengolah wajah tukang-tukang parkir.
    Kemarahan mengendon di dalam kalbu purba.
    Orang-orang miskin menentang kemelaratan.
    Wahai, Joki Tobing, kuseru kamu,
    kerna wajahmu muncul dalam mimpiku.
    Wahai, Joki Tobing, kuseru kamu
    karena terlibat aku di dalam napasmu.
    Dari bis kota ke bis kota
    kamu memburuku.
    Kita duduk bersandingan,
    menyaksikan hidup yang kumal.
    Dan perlahan tersirap darah kita,
    melihat sekuntum bunga telah mekar,
    dari puingan masa yang putus asa.
    Nusantara Film, Jakarta, 9 Mei 1977
    Potret Pembangunan dalam Puisi
    (http://zhuldyn.wordpress.com)
    TAHANAN
    Oleh :
    W.S. Rendra
    Atas ranjang batu
    tubuhnya panjang
    bukit barisan tanpa bulan
    kabur dan liat
    dengan mata sepikan terali
    Di lorong-lorong
    jantung matanya
    para pemuda bertangan merah
    serdadu-serdadu Belanda rebah
    Di mulutnya menetes
    lewat mimpi
    darah di cawan tembikar
    dijelmakan satu senyum
    barat  di perut gunung
    (Para pemuda bertangan merah
    adik lelaki neruskan dendam)
    Dini hari bernyanyi
    di luar dirinya
    Anak lonceng
    menggeliat enam kali
    di perut ibunya
    Mendadak
    dipejamkan matanya
    Sipir memutar kunci selnya
    dan berkata
    -He, pemberontak
    hari yang berikut bukan milikmu !
    Diseret di muka peleton algojo
    ia meludah
    tapi tak dikatakannya
    -Semalam kucicip sudah
    betapa lezatnya madu darah.
    Dan tak pernah didengarnya
    enam pucuk senapan
    meletus bersama
    diposkan oleh BOW merahhati,14052014

0 komentar:

Post a Comment

 
© 2009 BOW Merah Hati | Powered by Blogger | Built on the Blogger Template Valid X/HTML (Just Home Page) | Design: Choen | PageNav: Abu Farhan