Toto Sudarto Bachtiar
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Karya
- Suara: kumpulan sajak 1950-1955, 1956, memenangkan Hadiah Sastra BMKN
- Etsa (kumpulan sajak, 1958)
- Datang dari masa depan: 37 penyair Indonesia (2000)
Terjemahan
- Pelacur (1954), terjemahan karya Jean Paul Sartre
- Sulaiman yang Agung (1958), terjemahan karya Harold Lamb
- Bunglon (1965), terjemahan karya Anton Chekhov
- Bayangan Memudar (1975), terjemahan karya Breton de Nijs, diterjemahkan bersama Sugiarta Sriwibawa
- Pertempuran Penghabisan (1976), terjemahan karya Ernest Hemingway
- Sanyasi (1979), terjemahan karya Rabindranath Tagore
KUMPULAN PUISI KARYA TOTO SUDARTO BACHTIAR
PAHLAWAN TAK DIKENALKarya : Toto Sudarto BachtiarSepuluh tahun yang lalu dia terbaringTetapi bukan tidur, sayangSebuah lubang peluru bundar di dadanyaSenyum bekunya mau berkata, kita sedang perangDia tidak ingat bilamana dia datangKedua lengannya memeluk senapangDia tidak tau untuk siapa dia datangKemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang
Wajah sunyi setengah tengadahMenangkap sunyi padang senjaDunia tambah bekudi tengah derap dan suara merrduDia masih sangat mudaHari itu 10 November,hujan pun mulai turunorang orang-ingin kembali memandangnyaSambil merangkai karangan bungaTapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnyaSepuluh tahun yang lalu dia terbaringTetapi bukan tidur,sayangSebuah peluru bundar di dadanyaSenyum bekunya mau berkata : aku sangat mudaTENTANG KEMERDEKAAN
Karya : Toto Sudarto BachtiarKemerdekaan ialah tanah air dan laut semua muarajanganlah takut kepadanyaKemerdekaan ialah tanah air penyair dan pengembarajanganlah takut padanyaKemerdekaan ialah cinta salih yang mesraBawalah daku kepadanyaGADIS PEMINTA-MINTA
Karya :Toto Sudarto BachtiarSetiap kali bertemu,gadis kecil berkaleng kecilSenyummu terlalu kekal untuk kenal dukaTengadah padaku,pada bulan merah jambuTapi kotaku jadi hilang,tanpa jiwaIngin aku ikut,gadis kecil berkaleng kecilPulang ke bawah jembatan yang melulur sosokHidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapanGembira dari kemayaan riang
Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedralMelintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kau hafalJiwa begitu murni, terlalu murniUntuk bisa membagi dukakuKalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecilBulan di atas itu, tak ada yang punyaDan kotaku, ah kotakuHidupnya tak lagi punya tanda

0 komentar:
Post a Comment