Oleh: Ki Slamet Gundono
MATAHARI baru saja masuk ke peraduannya.
Puluhan kalong keluar menyambut senjakala yang baru saja datang. Sementara itu,
warga Karang Kadempel bergegas menyiapkan kenduri malam itu. Nyala oncor
bergoyang-goyang halus memandu jalan menuju rumah Semar.
Di rumah Semar, Lurah Karang Kadempel itu,
satu-dua ibu-ibu bergantian mengisi puluhan gelas yang ditata di atas meja
besar bertaplak sederhana. Gelas itu diisi ramuan khusus.
Diawali kedatangan Pandawa, berturut-turut
kesatria Ngamarta memasuki pelataran rumah Semar. Malam itu, sesepuh punakawan
itu memang sedang bikin slametan. Acaranya ujub syukur lantaran Semar tak
sengaja menemukan ramuan tradisional kuno, yaitu Jamu Kembang Kunir Wangi.
Bahan jamu itu tumbuh di antara bukit para dewa dan para raksasa.
Di tangan Semar, bahan itu diolah secara
alami tanpa bahan pengawet pengawet tambahan. Jamu itu memang hanya kuat
bertahan selama dua hari. Tapi, khasiatnya tetap joozzz... Launching Jamu
Kembang Kunir Wangi diakhiri dengan pembagian ramuan yang telah disediakan
untuk para tamu.
Keesokan harinya,...''Mo, 'ni gila!
Tenagaku berlipat ganda. Bisa pesan lagi kagak? Jo larang-larang lho ya,...''
ujar Bima by phone. Selang beberapa saat, HP Semar terima SMS, Mo, ente kudu
tanggung jawab nih...istriku semua kewalahan...masih ada gratisan gak?
Tertanda, Arjuna.
''Kalo gini carane, dengkulku yang leklok,
boss.. Mbok ada insentif,'' canda Bagong yang kebagian delivery order by
onthel.
Dalam sekejap, jamu Kembang Kunir Wangi
booming menjadi minuman kesatria dan warga Ngamarta. Dan biasa, di mana pun
kalau ada bisnis sukses, pasti ada yang ngiri.
***
Sampai pada suatu malam, dua bayangan
berkerudung sarung ala ninja mengendap-endap mendekati kediaman Semar. Dari
celah jendela, diketahui bahwa penghuni sudah terlelap. Tempat menyimpan target
sasaran pun agak lowong.
Berbekal sebatang linggis, dua ninja itu
mencongkel pintu belakang. Secara mudah, mereka mendekati ruang sasaran.
Kembang Kunir Wangi di pot kotak ukuran sedang tergeletak di lantai. Bahan
berkhasiat itu tersorot lampu. Salah satu sosok mengacungkan jempol dan mereka
tozz.
Baru saja keempat tangan mereka kompak
mengangkat pot, tiba-tiba, pendhusul... Mbilung mengaduh tertahan dan hampir
saja pot terjatuh. Cepat-cepat Togog memeluk pot. Dahi Mbilung bengkak, ''Kue
yah... tak kandhani, yen mangan endog emut kanca. Ben ora dadi wudun,'' ejek
Togog. ''Wudun gundulmu itu...''
Belum sempat Mbilung menyelesaikan, giliran
Togog pringisan nahan sakit di bokong. Suara dengung lebah semakin jelas di
telinga mereka. Tampak, Kumbang Ari-Ari dan Kumbang Kinanthi, penjaga Kembang
Kunir Wangi, pamerkan taringnya.Togog dan Mbilung, gragap, mblirit secepatnya
langsung masuk ICU. Mereka sadar racun kedua kumbang itu.
Tiga hari mereka terbaring lemah. Hari
kelima, mereka diperbolehkan pulang. Kesempatan itu dipergunakan untuk ke
tukang pandai besi memesan sepasang baju zirah dari baja. Sesuai rencana,
mereka kembali ke target sasaran mencuri Kembang Kunir Wangi. Dan memang,
penjagaan masih tidak ketat.
Tapi, begitu pintu kamar terbuka sedikit,
Kumbang Ari-Ari menyerang ganas. Kumbang Kinanthi menyusul di belakang tak
kalah membabi buta. Ternyata, ting..ting! Giliran para kumbang merintih sakit.
Entup mereka bengkok-bengkok menabrak baja. Para
kumbang kabur.
Hampir saja usaha Togog dan Mbilung
berhasil, ealah, Semar nyelonong masuk. Segera Togog dan Mbilung mbrobos
longan, ngumpet. Sampai di kamar, ternyata Semar malah ritual kayang. Hari-hari
terakhir ini, jam makannya tidak teratur. Perut Semar pun agak sedikit
mules-mules. ''Waduh Kang, bahaya besar nichh,'' ujar Mbilung. ''Ah masak??''
jawab Togog.
Togog dan Mbilung melepas semua baju zirah
bertepatan dengan DUUUT, kentut Semar. Togog dan Mbilung ambil langkah seribu.
Gagal maning, gagal maning!
Togog dan Mbilung lantas mengerahkan
seluruh ahli kumbang di Ngastina supaya menemukan predator untuk kalahkan
Kumbang Ari-Ari dan Kumbang Kinanthi. Singkat kata, ditemukanlah Kumbang
Arthalita dan Desi.
''E..jamu..jamune jambe puyeng, awak
ngliyeng dadi seneng,'' rayu Kumbang Arthalita. Kumbang Ari-Ari klepek-klepek
dibuatnya. Rayuan Kumbang Desi lebih ganas. Kumbang Kinanthi lupa daratan.
Dapat dibayangkan dech, Togog dan Mbilung dengan mudah membawa Kembang Kunir
Wangi.
Lalu, laboratorium khusus dibangun lengkap
dengan ahlinya. Mereka punya tugas khusus mengamati kandungan Kembang Kunir
Wangi. Akhirnya, terciptalah Jamu Ireng Nero. Pemasarannya menembus semua sudut
dunia.
Memasuki Indonesia, tepat ketika BPOM secara
ketat menyelidiki kandungan jamu yang sudah kadung bebas beredar. Imbasnya,
jamu Ireng Nero ditolak masuk. Dasar Togog dan Mbilung, mereka tetap saja nekat
memasarkan. Akhirnya, di daerah keraton, keduanya dicokok petugas.
Atas penangkapan itu, lewat pers Semar
meluncurkan statement, pada dasarnya jamu tidak berbahaya jika diminum dalam
kondisi yang masih segar. Kecuali jamu-jamu yang diproduksi dan dikemas dengan
asal-asalan. (*)

0 komentar:
Post a Comment